Dalam Kondisi Medis Seperti Apa Ibu Hamil Boleh Melakukan Kuret?

Saat dokter menyarankan untuk dilakukan prosedur aborsi kuret atau menggugurkan janin, maka artinya ada alasan medis yang didiagnosis mengganggu perkembangan normal kehamilan, membahayakan kondisi kesehatan dan mental sang ibu, serta kelainan janin. Proses pengambilan keputusan untuk menggugurkan kandungan berdasarkan kondisi tersebut dapat didasarkan pada beberapa hal yang ada di bawah ini.

Kondisi Perkembangan Kehamilan yang Tidak Normal

Saat kehamilan berpotensi tidak berkembang sebagaimana mestinya, dokter akan merekomendasikan pada sang ibu untuk dilakukan prosedur aborsi. Prosedur aborsi dini yang dilakukan ini dapat mengurangi risiko komplikasi maternal, seperti halnya infeksi uterus atau sistemis.

Adapun beberapa kondisi perkembangan kehamilan yang dianggap tidak normal meliputi:

  • Pertumbuhan janin intrauterine yang tidak sehat
  • Terjadinya kematian janin intrauterine
  • Ketuban pecah sebelum waktunya
  • Terjadinya pemisahan plasenta

Kelainan Janin

Abnormalitas congenital janin dan kelainan kromosom genetik seringkali tidak terdiagnosis sampai akhir trimester kedua kehamilan. Padahal, diagnosis dini dapat memudahkan sang ibu untuk membuat keputusan serta menghindari prosedur aborsi yang lebih rumit jika dilakukan pada akhir trimester kedua atau ketiga.

Beberapa kelainan janin yang dianggap perlu dilakukan prosedur aborsi antara lain adalah:

  1. Kondisi yang berpotensi menyebabkan cacat lahir, seperti Spina Bifida, Kembar Siam, atau Anencephaly
  2. Kelainan jantung atau ginjal pada janin yang tergolong parah
  3. Paparan agen berbahaya terhadap sang ibu, meliputi:
  • Infeksi
  • Obat-obatan
  • Obat-obatan terlarang
  • Dosis radiasi yang berbahaya
  1. Kelainan genetik, seperti Trisomi kromosom, Distrofi otot Duchenne, Tay-Sachs, dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan gen.

Kondisi Medis Ibu Hamil

Beberapa kondisi medis yang memburuk atau berkembang selama masa kehamilan dapat berpotensi mengancam nyawa ibu hamil jika kehamilannya tetap dilanjutkan. Seorang dokter dan ibu hamil yang bersangkutan harus mempertimbangkan tingkat risiko tersebut terhadap kehidupan janinnya.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin akan merekomendasikan dilakukannya prosedur aborsi untuk janin yang didiagnosis tidak dapat bertahan hidup atau berpotensi menyebabkan persalinan dini (kelahiran prematur) untuk janin yang dianggap layak.

Beberapa kondisi medis ibu hamil yang akan direkomendasikan untuk menjalani prosedur aborsi, yaitu:

  • Penyakit kardiovaskular, meliputi kardiomiopati, penyakit jantung akibat hipertensi, hipertensi pulmonal, dan sindrom eisenmenger
  • Penyakit renal
  • Kanker
  • Preeklamsia
  • Infeksi intrauterine

Sedangkan masalah medis lainnya yang diperbolehkan dilakukannya aborsi meliputi penyakit lain yang dapat menyebabkan terjadinya masalah signifikan selama kehamilan dan membuat janin serta kehidupan sang ibu berisiko jika sulit untuk dikendalikan. Kondisi medis yang dimaksud tersebut diantaranya sebagai berikut ini:

  • Diabetes yang tidak terkontrol dengan komplikasi ginjal, kardiovaskular, dan penglihatan yang parah
  • Trombotic thrombocytopenic purpura, yakni kelainan darah dari trombosit rendah yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan
  • Penyakit genetik yang diderita sang ibu, seperti sindrom Marfan (penyakit yang memengaruhi jaringan ikat, terutama jantung, pembuluh darah, dan tulang). Di mana aorta yang sudah parah dapat menyebabkan kematian

Meskipun kondisi medis seperti yang disebutkan di atas diperbolehkan untuk dilakukan tindakan aborsi, biasanya keputusan untuk melakukan aborsi karena alasan medis dapat menjadi sangat sulit dan memicu stres bagi sang ibu maupun pasangannya. Oleh karena itu, jika Anda dihadapkan pada situasi semacam ini, pastikan Anda sudah mengetahui berbagai informasi penting terkait aborsi yang harus Anda jalani dan menimbang pro serta kontra dari keputusan yang akan dibuat berdasarkan informasi terbaik.

Leave a Reply